Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulonprogo yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) saat ini sedang dalam tahap penyelesaian konstruksi khususnya pada Seksi 1 Solo-Purwomartani dengan total panjang 42,38 kilometer. Tol ini nantinya tersambung dengan Tol Trans Jawa.
Seksi 1 terbagi menjadi Paket 1.1 Solo-Klaten sepanjang (22,30 kilometer/km) dengan progres konstruksi mencapai 94,91%, dan Paket 1.2 Klaten-Purwomartani (20,08 km) dengan progress konstruksi mencapai 51,81%. Kedua paket ini ditargetkan selesai konstruksinya pada kuartal IV-2024.
Jalan tol ini akan terkoneksi dengan jaringan tol Trans Jawa melalui akses/gerbang tol Colomadu dan juga terhubung dengan tiga bandara sekaligus yakni di Solo, Semarang, dan Yogyakarta.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat mengunjungi tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulonprogo sempat mengecek kondisi pengerjaan jalan tol tersebut. Dia meminta kepada Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Jogja Solo untuk mempercepat penyelesaian pembangunan, khususnya untuk Paket 1 dari Simpang Susun Kartasura hingga Klaten.
“Saya minta akhir Agustus 2024 ini sudah selesai dari Kartosuro sampai Klaten sepanjang 22 km. Selanjutnya dari Klaten ke Prambanan hingga Purwomartani seluruhnya selesai akhir tahun 2024,” tegasnya. Untuk Seksi II Purwomartani-Jc. Sleman sepanjang 15,63 km ditargetkan selesai konstruksi pada tahun 2026 mendatang. Selanjutnya Seksi III Sleman – Purworejo sepanjang 38,59 km ditargetkan akan selesai konstruksi pada tahun tahun 2025.
“Kehadiran jalan tol ini diharapkan mengurangi beban kepadatan lalu lintas kendaraan di jalan nasional Yogyakarta-Solo yang saat ini kondisinya kerap macet, khususnya menuju destinasi pariwisata sepanjang koridor, seperti Candi Prambanan dan bandara,” ungkap Menteri Basuki.
Pada pelaksanaan arus mudik Lebaran 2024, tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulonprogo ruas Colomadu - Ngawen telah dibuka fungsional dan memangkas waktu tempuh perjalanan, yakni dari GT Colomadu menuju Klaten diperkirakan hanya 25 - 30 menit saja. Selama pelaksanaan pembangunan jalan tol tersebut, Pemerintah melalui Kementerian PUPR sangat memperhatikan serta peduli dengan keberadaan bangunan bersejarah, situs-situs cagar budaya dan purbakala yang berada di wilayah D.I. Yogyakarta dan akan turut serta memperhatikan dan melestarikan yang ada di sekitarnya khususnya garis imajiner yang berada di Yogyakarta (melintasi D.I. Yogyakarta dari Gn. Merapi - Parangkusumo).
Bangun Exit Toll
Kementerian PUPR saat ini juga sedang mendukung upaya PT Trans Marga Jateng (TMJ) untuk membangun exit toll di Jalan Pattimura Salatiga yang merupakan bagian dari jalan tol Semarang-Solo.
Anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Tulus Abadi mengatakan saat ini Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR sedang mempersiapkan dokumen pendukung untuk pembiayaan pembayaran pengadaan lahan off ramp Pattimura-Salatiga Jalan Tol Semarang-Solo.
“Exit toll yang akan dibangun di Jalan Pattimura-Salatiga merupakan pintu masuk dan keluar akses Kota Salatiga ke arah Semarang, maupun sebaliknya dari Semarang ke Salatiga,” jelasnya.
Menurut Tulus, BPJT terus berkoordinasi dengan Ditjen Bina Marga serta berharap dapat diselesaikan dalam waktu dekat.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Fadholi menegaskan exit toll Salatiga ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat sehingga Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang akan mendapat nilai ekonomi yang bagus dengan adanya exit toll tersebut.
Jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,95 km merupakan bagian dari jaringan jalan tol Trans Jawa yang dikelola oleh PT Trans Marga Jateng (TMJ), kelompok usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan terbagi menjadi lima seksi.
Seksi I yakni Banyumanik-Ungaran (10,85 km) sudah beroperasi sejak 26 Agustus 2011, dan seksi II Ungaran-Bawen (11,99 km) telah dioperasikan pada 4 April 2014.
Selanjutnya Seksi III Bawen-Salatiga (17,59 km), beroperasi sejak 25 September 2017. Kemudian untuk Seksi IV Salatiga-Boyolali (24,47 km), dan Seksi V Boyolali-Kartasura (7,74 km) sudah beroperasi pada 20 Desember 2018. (Teti Purwanti)