• 27 Jul, 2026

Sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta telah menyelesaikan tahapan renovasi gedung dan re-branding untuk meningkatkan daya tarik pengunjung di tengah persaingan ketat pasca pandemi Covid-19. Penurunan daya beli masyarakat menengah turut menjadi tantangan sektor ritel di 2025.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat menyebutkan beberapa ritel di Jakarta telah memperlihatkan progress hasil renovasinya dan lebih optimis untuk menciptakan crowd kunjungan yang lebih positif. Tentu saja, inovasi ruang-ruang baru dengan tema yang menarik menjadi point of atrraction

“Selain itu, penyewa baru dan tenancy mix  menjadi penting untuk memberikan pengalaman baru terhadap pengunjung,” ungkapnya dalam paparan risetnya, baru-baru ini.

syarifah-syaukat.jpg

Sari (demikian dia akrab disapa) menyebutkan, satu ritel mall premium telah memberikan nuansa baru di bilangan Thamrin Jakarta, yakni Agora Mall. Ritel yang berada dalam kompleks gedung perkantoran pencakar langit tertinggi tersebut menyediakan ragam peritel berbasis entertainment, life style dan FnB yang khas dengan vibes dari urban retail yang membawa warna baru bagi sektor ritel di Jakarta.

Selain itu, tiga mall di Jakarta Selatan masih melakukan renovasi untuk memberikan new experience kepada pengunjung, dua diantaranya berada di kawasan CBD.

Sementara di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah, di tahun 2025 diperkirakan setidaknya akan ada tambahan 4 ritel baru di Jakarta yang membuat persaingan antar mall semakin ketat.

General Manager General Agency Knight Frank Indonesia, Frank Tumewa menjelaskan renovasi dan re-branding dilakukan oleh pusat perbelanjaan lama. Lesunya pengunjung selama pandemi dimanfaatkan pengelola mall untuk melakukan aktivitas renovasi bahkan melakukan re-branding . Namun, dia mengingat agar langkah itu memerhatikan beberapa hal.

Pertama, sebelum melakukan renovasi atau re-branding  harus mengidentifikasi dulu kebutuhan dan tujuannya. Hal itu agar rencana desain dan konsepnya sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini termasuk penambahan fasilitas.

“Kedua, setelah dilakukan renovasi maupun re-branding , perlu dilakukan evaluasi dan pemantauan untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai atau dibutuhkan perbaikan lanjutan,” ujar Frank Tumewa.  

Masih Primadona

Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia menambahkan, sektor ritel masih menjadi salah satu sektor primadona yang menjadi pilihan investasi atau termasuk dalam Top Five Sector for Property Investment di Asia Pasifik. Dengan volume investasi yang tertinggi di Asia Pasifik.

“Ritel menjadi salah satu sektor properti dengan investasi yang minim risiko di Asia Tengggara, terutama di Jakarta dan Singapura,” ungkapnya.

mall4.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Tetapi, Energized and Unstoppable Innovation perlu diterapkan dalam adaptasi ruang ritel saat ini, terutama untuk ritel kelas middle- low sehingga dapat mencapai ketangguhan yang diharapkan. Sedangkan ritel kelas middle-up juga perlu mengadaptasi nilai yang sama untuk terus riding the wave

Artinya, ungkap Willson Kalip, seluruh kelas ritel saat ini tidak hanya dapat mengandalkan model brick-and-mortar retail , namun multiply channel harus dilakukan untuk bertahan dengan memperluas pemasaran produknya.

Secara umum, Knight Frank Indonesia menyebutkan bahwa di semester kedua tahun 2024, total pasokan mall di Jakarta tetap 4,3 juta meter persegi. Rerata tingkat okupansi ruang ritel berada di kisaran 77,55%, atau menurun tipis dari periode yang sama tahun 2023 (year on year).

Sedangkan rerata harga sewa meningkat sekitar 4,27% dari periode yang sama tahun lalu. Dilaporkan, new tenant in pada ritel kelas middle-up  didominasi oleh global brand terutama sektor entertainment dan FnB. Sementara peritel local brand mewarnai di sektor supermarket, home appliance dan FnB.

table-ritel.jpg

Strata-retail masih penuh tantangan di 2025, ditandai dengan lemahnya okupansi dibandingkan ritel sewa. Namun, tingkat kunjungan terus mengalami kenaikan terutama saat libur panjang akhir tahun,” papar Willson Kalip.

Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memproyeksikan bisnis pusat perbelanjaan akan terus bertumbuh di 2025 sekitar 11%-12% secara tahunan. Pertumbuhan terutama terjadi di kawasan Jabodetabek.

Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja mengatakan secara pasokan baru, sedikitnya lahan di Jabodetabek menjadi tantangan terbesar. Oleh karena itu, pengembangan pusat perbelanjaan ke depan akan berfokus di proyek mixed-used development.

alphonsuz-widjaja-appbi.jpg

“Dari sisi rasio, luasan mall terhadap populasi di Indonesia masih sangat rendah, bahkan kalah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ini menjadi peluang pasar,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Meski optimistis pasar pusat perbelanjaan akan bergerak positif di tahun ini, tetapi diakuinya terdapat sejumlah hambatan seperti daya beli masyarakat yang menurun dan periode peak season yang menumpuk di kuartal pertama 2025. Karena itu, dia memperkirakan pusat perbelanjaan akan mencapai puncak kunjungan pada libur Imlek, Ramadan dan Idulfitri 2025. 

Alphonzus juga menyambut baik kebijakan pemerintah yang menunda kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di tengah daya beli masyarakat yang rendah. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi