• 27 Jul, 2026

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengungkap bahwa ekonomi di provinsi tersebut pada 2024 tumbuh sebesar 4,93% (c-to-c). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PKLNPRT) yang tumbuh sebesar 12,49%. 

Sebagai daerah yang merupakan pintu masuk utama ke Indonesia bagian timur, Surabaya masih menjadi kota yang dinamis untuk kegiatan belanja. Colliers Indonesia menyebutkan Surabaya memiliki permintaan yang terpusat di mall dengan lalu lintas tinggi dan menawarkan campuran penyewa yang kuat. 

Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan aktivitas penyewaan yang menonjol terlihat di salah satu mall terkemuka di Kota Pahlawan yang melakukan pengembangan campuran pada tahun ini. 

Sementara mall yang menghadapi tantangan dengan tingkat hunian rendah, disarankan melakukan langkah prioritas pada strategi revitalisasi, seperti menata ulang ruang atau meningkatkan proposisi nilai guna menarik lebih banyak pengunjung. 

“Pemilik mall termasuk di Surabaya saat ini semakin fokus pada konsep inovatif untuk memaksimalkan kinerja mall. Hal itu agar tetap selaras dengan tren ritel yang sedang berkembang dan dinamika persaingan di kota tersebut,” kata Ferry dalam laporan resminya.

Agar tetap menarik, pemilik mall juga disarankan aktif meningkatkan campuran penyewa mereka dengan menargetkan pengecer yang bergerak dalam usaha gaya hidup dan menawarkan opsi penyewaan yang lebih fleksibel untuk menarik mereka yang usahanya sedang berkembang. 

Selain itu, pemilik mall dianjurkan untuk mengembangkan strategi pemasaran yang efektif, seperti program loyalitas dan promosi, dan mungkin penting untuk meningkatkan lalu lintas pejalan kaki. Pemilik atau pengelola mall pun diharapkan secara teratur memperbarui diri mereka sendiri tentang tren ritel dan umpan balik penyewa yang dapat membantu mengidentifikasi peluang untuk perbaikan dan inovasi. 

mall-sby4.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

“Dengan tidak adanya proyek baru yang diumumkan di Surabaya dan permintaan yang stabil untuk penawaran yang berfokus pada gaya hidup, maka pasar ritel Surabaya diprediksi berada pada posisi akan tumbuh positif terutama dari sisi tingkat hunian (okupansi) pada 2025,” jelas Ferry. 

Tahun ini, permintaan sektor ritel di Surabaya diperkirakan akan tumbuh sekitar 4% per tahun selama tahun 2025-2027. Adapun pendorong terbesar  adalah meningkatnya kepercayaan diri para peritel mode serta makanan dan minuman. 

Di sisi lain, tanpa adanya pembangunan mall baru, maka pasokan kumulatif diperkirakan akan tetap stagnan setidaknya hingga tahun 2027. Dari sisi tarif sewa, rata-rata sewa sebagian besar disumbangkan oleh pusat perbelanjaan yang mampu mempertahankan kinerja tinggi. Rata-rata sewa diperkirakan akan meningkat sedikit selama tahun 2025-2027. 

“Karena kurangnya pasokan yang akan datang, tingkat kekosongan diperkirakan akan turun hampir 2% per tahun selama tahun 2025-2027. Biaya layanan diproyeksikan akan meningkat secara bertahap sekitar 3% setiap tahun selama tahun 2025-2027,” ungkap riset Colliers.

Tingkat hunian keseluruhan di Surabaya tercatat sebesar 72,5% pada semester II-2024, yang menunjukkan peningkatan moderat dibandingkan dengan semester I- 2024. 

“Tingkat hunian diproyeksikan mencapai sekitar 76% pada tahun 2025 dan diharapkan meningkat sekitar 3% per tahun dari tahun 2025 hingga 2027," ungkap Ferry. 

Adapun proyeksi rata-rata tingkat hunian mall menengah-atas di Surabaya tercatat sebesar 77,8%, dari mall kelas menengah sebesar 73,5%, dan mall kelas bawah masih di bawah 60%. 

Perluasan Mall

Merujuk data Colliers Indonesia, di 2024 proyek perluasan mall yang rampung telah menambah pasokan baru dan mendorong lanskap ritel di Surabaya terus berkembang. Perluasan mall diantaranya Pakuwon City Mall tahap 3, yang selesai dibangun pada November 2024, sehingga menambah pasokan kumulatif pusat perbelanjaan di Surabaya menjadi 1,26 juta meter persegi pada semester kedua 2024. 

Sementara itu, pengumuman pembangunan mall baru yang nihil di 2025, membuat pasokan kumulatif diperkirakan tetap pada angka saat ini, setidaknya selama dua tahun ke depan. 

Beberapa pengembang terkenal mungkin mempertimbangkan untuk memperluas kinerja gemilang dari proyek-proyek portofolio mereka. Untuk memenuhi permintaan gaya hidup yang meningkat, salah satu pengembang meluncurkan konsep ritel luar ruangan untuk meningkatkan daya tarik dan menambah nilai pada kompleks apartemen yang sudah eksisting.

“Pemilik gedung harus terus menyelenggarakan acara-acara kreatif dan mendiversifikasi campuran penyewaan untuk menjadi tujuan gaya hidup utama,” ujar Ferry.

Sebagai salah satu pusat kota utama di Indonesia, Surabaya menawarkan tujuan ritel yang beragam, didorong oleh campuran acara-acara perayaan, kampanye promosi, dan kegiatan mall yang strategis. Upaya-upaya ini mencerminkan langkah-langkah yang diperhitungkan oleh pemilik gedung untuk memperkuat posisi mall dan memastikan minat pengecer yang stabil. 

Aktivitas penyewaan yang positif tercatat di Ciputra World Surabaya, yang mendapatkan pengecer terkemuka seperti Calvin Klein, Foot Locker, Marks & Spencer, dan beberapa lainnya. 

Pemilik gedung masih menahan penyesuaian tarif di tengah persaingan yang terus ketat. Pada semester II-2024, tarif sewa rata-rata untuk ruang ritel di Surabaya tercatat sebesar Rp443.551 per meterpersegi yang menunjukkan penurunan tipis dari semester I-2024. Stabilitas dalam sewa mencerminkan pendekatan hati-hati pemilik gedung, yang berfokus pada memaksimalkan permintaan ruang ritel yang ada. 

“Ke depan, tarif sewa diperkirakan akan tumbuh sekitar 2% pada 2025, sementara biaya pelayanan ( service charge ) mungkin naik hampir 3%, didukung oleh pertumbuhan ekonomi dan permintaan ritel yang diantisipasi,” pungkas Ferry. (Teti Purwanti)

 

Teti Purwanti