• 27 Jul, 2026

Tingkat keterisian perkantoran hijau atau green office terus meningkat. Harga sewa yang kompetitif dan meningkatnya kesadaran terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang berkelanjutan menjadi alasan kantor hijau kian diincar.

Knight Frank Indonesia mengungkapkan bahwa gedung perkantoran bersertifikat hijau, seperti yang memiliki sertifikasi GBCI, Greenmark, LEED, WELL, dan sebagainya kini mewakili 14% dari total luas lantai bruto (GFA) gedung perkantoran di CBD Jakarta, mencapai 1.076.404 meter persegi. 

“Permintaan akan ruang kerja berkelanjutan cukup stabil, terutama untuk ruang perkantoran premium,” ungkap Willson Kalip, Country Head dari Knight Frank Indonesia dalam laporan risetnya, baru-baru ini.

Tingkat hunian gedung bersertifikat hijau menunjukkan perbedaan dibandingkan dengan gedung perkantoran konvensional sebanyak -3%. Namun, rata-rata pertumbuhan harga sewa untuk ruang kantor berkelanjutan ini secara signifikan lebih tinggi antara 25%-30%.

willson-kalip.jpg

Perbedaan sewa ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti lokasi, usia bangunan, fitur smart technology, building specification, supporting facilities, amenities dan lainnya. Meskipun demikian, tren gedung perkantoran hijau ini diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan matangnya pasar ESG.  

Sebagai contoh, pasar dari gedung perkantoran bersertifikat BREEAM di Inggris mampu meningkatkan nilai properti bagi investor dan pemilik. Di London, gedung perkantoran dengan peringkat BREEAM 'Sangat Baik', ‘Sangat Baik Sekali’ dan 'Luar Biasa' mengalami kenaikan sewa antara 3,7% sampai 12,3% dalam sepuluh tahun.  

Knight Frank juga mengamati peningkatan adopsi ESG di pasar perkantoran. Survei tahun 2023 menunjukkan bahwa investor Eropa dan Asia  memprioritaskan efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, dan fasilitas pengisian kendaraan listrik (EV) saat mempertimbangkan akuisisi properti.  

Saat ini, gedung perkantoran hijau di Jakarta umumnya dilengkapi dengan infrastruktur pengisian EV, integrasi energi terbarukan, serta sistem konservasi dan daur ulang air dan sampah, serta pemantauan konsumsi energi.  

Disebutkan, pertumbuhan pasar gedung perkantoran hijau di Jakarta membuktikan bahwa pelaku industri properti dan penyewa/ occupier semakin sadar akan pentingnya ESG. Knight Frank melihat minat yang meningkat pada bangunan yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memberikan manfaat sosial dan didukung oleh tata kelola yang kuat. 

Prestise juga menjadi nilai tambah dari gedung perkantoran berbasis ESG. Kami prediksikan tren ini akan terus berlanjut seperti pasar Asia Pasifik, karena semakin banyak perusahaan memasukkan ESG ke dalam strategi bisnis mereka," kata Jackie Cheung, Direktur ESG Knight Frank Asia Pasifik dan Singapura. 

perkantoran2.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Okupansi Tumbuh

Akhir 2024, kondisi perekonomian masih relatif tetap, di tengah berbagai tantangan global dan regional. Dalam ranah regional Asia Pasifik, tambahan stok sekitar 7% diperkirakan akan memberikan perubahan lansekap yang signifikan terhadap pasar perkantoran regional.

Pertumbuhan sektor perkantoran di CBD Jakarta meningkat tipis. Setidaknya ditandai dengan kenaikan okupansi sekitar 2% dari semester pertama menjadi 76,46% pada semester kedua tahun 2024. Selain itu, pertumbuhan harga yang positif juga terjadi pada beberapa kelas perkantoran di CBD Jakarta, yaitu kelas Premium Grade A dan Grade A.

Serapan ruang perkantoran terlihat membaik, namun sekitar 15%-20% masih datang dari group company demand , selebihnya adalah relokasi dan ekspansi terbatas dari beberapa sektor occupier seperti IT, mining, oil and gas, energy and EV-related .

Di tengah tantangan yang terus berlanjut, perkantoran berbasis hijau terdeteksi memiliki pertumbuhan okupansi yang positif di semester kedua tahun 2024 berkisar 73,4%, dengan rerata pertumbuhan harga berkisar 4% ( year on year ).

“Kompetisi harga dan kondisi tenant market menjadikan green office sebagai alternatif bagi penyewa yang berminat meningkatkan kualitas ruang kantornya,” sebut data Knight Frank Indonesia.

perkantoran.jpg

Sementara itu, stok perkantoran di CBD tetap di semester kedua tahun 2024 di angka 7.326.495 meter persegi. Diperkirakan tidak ada stok baru sepanjang tahun ini.

Willson Kalip menyebutkan, merujuk pada property outlook 2025, sektor perkantoran diperkirakan masih akan menghadapi tantangan di tahun ini. Terlepas dari tantangan tersebut, diperlukan daya adaptasi pada sektor perkantoran terhadap dinamika perkembangan AI ( Artificial Intelligence ).

“AI diprediksi akan menjadi game changer dalam memengaruhi operasional dan format ruang kerja yang adaptif, cerdas, efisien dan fleksibel,” ungkapnya.

Optimisme juga diungkap data Colliers Indonesia yang menyatakan bahwa pasar sewa gedung perkantoran akan terus bertumbuh di Jakarta. Kota terbesar di Indonesia ini diharapkan terus menarik perusahaan lokal dan internasional untuk membuka kantor di Jakarta.  

ferry-salanto-1.jpg

“Permintaan didorong oleh aktivitas penyewa, dimana pemilik gedung tetap menawarkan insentif menarik guna mengamankan komitmen sewa,” kata Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia.

Fleksibilitas dalam ketentuan sewa-menyewa membuat proses sewa kantor menjadi lebih mudah dan efektif dari segi biaya. Pasar yang berpihak kepada penyewa diprediksi berlanjut hingga akhir 2025. Beberapa pemilik gedung, kata Ferry, juga akan terus menyediakan paket sewa yang kompetitif untuk penyewa.  

“Di akhir tahun 2025, tingkat hunian diperkirakan akan mengalami peningkatan bertahap,” pungkasnya. (Rinaldi)

 

 

 

 

Muhammad Rinaldi