Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Regional EAROPH ke-54. Kegiatan ini mengusung tema “Transforming Urban Landscapes: Driving Progress, Innovation and Sustainability for Global Future Cities” dan berlangsung dari tanggal 5-8 Oktober 2025.
Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjadi keynote speaker dan membuka konferensi tersebut mengajak berbagai pihak terutama EAROPH Indonesia untuk berkolaborasi merancang dan membangun kota-kota masa depan yang hijau, ramah lingkungan, serta memiliki daya tahan (resiliensi) terhadap berbagai risiko alam.
Hal itu mengingat di tahun 2045 hampir 70% atau 7 dari 10 penduduk di dunia akan tinggal di perkotaan, sehingga menjadikan perkotaan sebagai masa depan dunia. Berbagai risiko harus diantisipasi mulai dari perubahan iklim, bencana alam, ketimpangan sosial, hingga kelangkaan sumber daya.
“Semangat dari pertemuan hari ini harus mendorong kita untuk membangun kota-kota yang lebih baik, khususnya di Indonesia,” ungkap AHY di Novotel Cikini, Jakarta, Senin (6/10).
Menurutnya, kota masa depan yang tangguh tidak dibangun esok hari, tetapi dirancang sejak hari ini. Kota-kota yang dibangun harus dipersiapkan sedini mungkin dengan berbagai inovasi dan inklusi agar mampu mengubah kerentanan yang ada menjadi kekuatan.
Kota masa depan, jelas AHY, harus mampu menghadirkan kenyamanan hidup bagi penghuninya. Belajar dari kota-kota maju di dunia yang tidak hanya membangun gedung-gedung, tetapi turut menciptakan ruang hidup yang manusiawi. Saat ini, diakuinya masih sering terlihat wajah kemiskinan kota. Dimana di samping atau di belakang gedung-gedung tinggi masih terdapat banyak kawasan kumuh (slum area) dengan rumah petak kecil yang tidak memiliki sanitasi yang baik.

EAROPH ke-54
“Kita masih melihat ketimpangan dalam pengembangan kawasan perkotaan. Misalnya ada kawasan kumuh dengan tempat tinggal yang kurang memadai, enggak ada pencahayaan namun dihuni sampai empat keluarga berganti-gantian,” ungkap AHY.
Untuk itu, ke depan pembangunan kota harus menerapkan konsep urban regeneration. Yakni menata apa yang sudah ada, melakukan revitalisasi dan pembenahan dengan landasan regulasi yang baik. Diharapkan pendekatan pembangunan kota seperti itu mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat, sekaligus mengurangi kemiskinan.
Daya Saing
Presiden EAROPH Indonesia, Andira Reoputra mengatakan EAROPH sedang menyiapkan rekomendasi kebijakan strategis untuk memperkuat arah pembangunan kota berkelanjutan di Indonesia, termasuk Jakarta. Pembangunan kota berkelanjutan, menurutnya, hanya dapat terwujud lewat kolaborasi.
“Baik pemerintah maupun EAROPH sepakat bahwa pembangunan kota berkelanjutan memerlukan inovasi pendanaan termasuk green financing ,” ungkap Direktur Utama Perumda Sarana Jaya tersebut.
Karena itu, menjadi tuan rumah konferensi perkotaan se-Asia Pasifik ini merupakan momen bersejarah bagi Indonesia, khususnya Jakarta. Pasalnya, Jakarta adalah sebuah kota megapolitan dengan banyak tantangan, sekaligus memiliki ambisi besar untuk menjadi kota berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.

“Tema kota global yang berkelanjutan yang diusung pada konferensi di Jakarta ini bukan sekadar tema, tetapi misi kita bersama. Bukan hanya untuk berbagi perjalanan, tetapi kita berkumpul untuk belajar dari pengalaman-pengalaman para ahli yang hadir di sini,” ujarnya.
Reoputra mengajak peserta konferensi menjadikan pertemuan tersebut sebagai titik balik untuk berinovasi dalam keberlanjutan, berkolaborasi lintas batas dan sektor, serta membangun kota-kota masa depan yang cerdas dan tangguh, serta berdaya saing seperti yang diharapkan Pemerintah Indonesia.
Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) itu menyebutkan pelaksanaan konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini telah memantik ide-ide baru, kemitraan baru, dan komitmen baru terhadap pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.
Presiden EAROPH Internasional, Jahangir Khan Sherpao, menekankan bahwa tema besar konferensi tahun ini mencerminkan urgensi zaman dalam mendorong inovasi dan ketahanan perkotaan di seluruh dunia. Menurutnya, masa depan kota adalah tanggung jawab bersama yang diemban pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun kota inklusif, tangguh, dan berdaya saing global,” ungkapnya.
Konferensi Regional EAROPH ke-54 dihadiri ratusan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Pakistan, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Kepulauan Pasifik (Fiji dan Kepulauan Solomon).
Pada sesi diskusi, konferensi ini menghadirkan pembicara diantaranya Emil Elestianto Dardak (Honorary Presiden EAROPH International/Wakil Gubernur Jawa Timur), Bambang Susantono (Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara periode 2022-2024), Soelaeman Soemawinata (Ketua Umum DPP REI periode 2016-2019) dan Hendricus Andy Simarmata, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia. (Rinaldi)