Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) merayakan ulang tahun yang ke-53 dengan menggelar syukuran dan pemotongan tumpeng di kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) REI, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (11/2).
Uniknya, peserta kegiatan dari 37 dewan pengurus daerah se-Indonesia diwajibkan mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing. Perayaan syukuran HUT REI ke-53 ini diadakan secara offline di kantor DPP REI dan online melalui zoom meeting.
Hadir di kantor DPP REI antara lain Ketua Umum DPP REI Joko Suranto, Sekretaris Jenderal DPP REI Raymond Ardan Arfandy, Bendahara Umum DPP REI Samuel S. Huang, serta sejumlah wakil ketua umum dan wakil sekretaris jenderal, pengurus dan staf sekretariat DPP REI.
REI didirikan pada 11 Februari 1972 di Jakarta. Ketua umum pertamanya adalah begawan properti Indonesia, Ir. Ciputra. Dengan anggota perdana sebanyak 9 perusahaan property, Dimana 6 perusahaan diantaranya merupakan perusahaan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur bahwa REI sudah memasuki usia yang sangat matang. Usia ke-53 adalah momentum untuk melangkah lebih lanjut menuju satu organisasi yang modern dan disegani. Dikatakan, sebagai asosiasi pengembang properti REI telah membuktikan diri mampu tiga kali melewati krisis besar baik nasional maupun internasional.
Pertama, saat krisis moneter tahun 1998 yang menyebabkan hampir 50% pengembang mengalami restrukturisasi utang di perbankan dan banyak proyek properti terhenti. Kedua, terjadinya krisis finansial global pada 2008 akibat subprime mortgage di Amerika Serikat yang kemudian berimbas ke perekonomian sejumlah negara termasuk Indonesia. Terakhir, di tahun 2019 terjadi lagi goncangan akibat pandemi kesehatan dengan merebaknya Covid-19 selama hampir tiga tahun.
“Tetapi waktu membuktikan bahwa kita semua mampu bertahan dan akhirnya bertumbuh kembali, meski pun saat itu tidak ada satu kementerian khusus yang mengurusi sektor perumahan dan properti. Itu bertanda bahwa sektor ini teruji ketangguhannya,” ungkapnya.
Menurut Joko Suranto, kini dengan adanya Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang sejak awal turut didukung REI, diharapkan sektor properti terutama penyediaan perumahan menjadi lebih baik dari sebelumnya saat tidak ada. Sektor perumahan seharusnya lebih produktif, lebih nyaman dan penuh kepastian. Meski diakuinya, hampir tiga bulan sejak kementerian itu dibentuk belum terlihat kebijakan yang berarti dalam memenuhi aspek kepastian berusaha dan kepastian ketersediaan hunian bagi masyarakat.
“Seiring dengan adanya program 3 juta rumah, tentu kita semua harus mendukung penuh. Namun komitmen itu harus kembali ke urgensi utamanya yakni jangan sampai bisnis kita terganggu, jaga performa bisnis kita agar lebih baik,” tegas CEO Buana Kassiti Group tersebut.
Tahun ini, REI mendorong agar kontribusi asosiasi ini dalam pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui skema FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dapat mencapai 53% seperti angka usia REI. Tetapi, dalam konteks belum adanya kepastian regulasi dalam penyaluran FLPP, Joko Suranto mengingatkan anggotanya untuk berhati-hati, karena hingga saat ini pemerintah belum melakukan hal mendasar yang memastikan penyaluran KPR FLPP kepada MBR berjalan sebagaimana mestinya.
“Yang mendasarkan saja belum dilakukan (kementerian). Yang banyak diurus adalah hal-hal yang bikin gaduh dan tidak substansial. Oleh karena itu, fokus utama kita sekarang adalah menjaga agar perusahaan kita tetap sehat dan baik-baik saja,” sebutnya.
Kenapa begitu? Menurut Joko Suranto, seluruh perusahaan anggota REI harus sehat dan terus bertahan karena banyak karyawan yang bekerja masih membutuhkan nafkah bagi keluarganya. Pengembang adalah pejuang lapangan kerja karena terbukti mampu menyiapkan lapangan kerja bagi hampir 20 juta orang, dan mungkin lebih jika mengikutkan 185 industri terkait lainnya.
Pengembang juga pejuang pajak, karena bisnis properti adalah bisnis terbuka yang semua tahap pembayaran pajaknya bisa dicek, dari mulai awal membeli lahan hingga produk diserahterimakan kepada konsumen. Selain itu, pengembang merupakan pejuang ekonomi yang ikut mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa.
“Kita harus percaya diri, yakin bahwa apapun kondisinya kita bisa bertumbuh, bisnis kita meningkat dan REI sebagai asosiasi profesi semakin hebat,” tegasnya.

Juara Lomba
DPP REI menyampaikan terimakasih atas kerja keras pengurus dan anggota DPD REI se-Indonesia yang terus menjaga dan menjalin sinergi dengan para stakeholder mitra kerja. Joko Suranto memastikan bahwa DPP REI akan terus memperjuangkan kepentingan bersama seluruh anggota, serta berjuang menjaga ketenangan dan kepastian usaha anggota REI di seluruh Tanah Air.
“Terimakasih juga atas partisipasi teman-teman DPD REI sehingga syukuran ini berlangsung meriah dengan lomba nasi tumpeng dan lomba pakaian adat daerah. Semoga kekompakan kita ini abadi. Dirgahayu REI ke-53, jalin sinergi tumbuh Bersama,” ujar Joko Suranto.
Terpilih sebagai juara lomba nasi tumpeng HUT REI ke-53 yakni Juara 1 DPD REI Jawa Barat, juara 2 DPD REI Aceh, serta juara 3 yaitu DPD REI Jambi dan DPD REI Jawa Timur. Sementara juara pakaian adat yakni juara 1 DPD REI Kalimantan Barat, juara 2 DPD REI Kalimantan Selatan dan juara 3 DPD REI Daerah Istimewa Yogyakarta. (Rinaldi)