• 27 Jul, 2026

Penjualan lahan industri di Jawa Timur (Jatim) khususnya Kawasan Surabaya dan sekitarnya selama 2024 lebih rendah dibanding realisasi pada 2023. Selain akibat dampak tahun politik, situasi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian turut memengaruhi minat investor.

Riset Colliers Indonesia menyebutkan, pada semester II-2024 penjualan lahan industri di kawasan itu hanya 21 hektar, atau 79% dibandingkan realisasi semester II-2023. Sementara permintaan kumulatif selama tahun 2024 mencapai 2.277 hektar atau 73% dari total stok lahan. Selain itu, tidak ada pasokan lahan baru di paruh kedua 2024 di Surabaya dan sekitarnya.

“Total persediaan lahan sekitar 3.374 hektar. Gresik masih mendominasi pasokan dan stok lahan industri di Surabaya dan sekitarnya dengan persentase mencapai 37%, disusul Pasuruan 18%, Sidoarjo 16%, Mojokerto 13%, Surabaya 8% dan Tuban 8%,” ungkap Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia dalam paparannya secara daring , baru-baru ini.

industrisby5w.jpg
Foto-foto Istimewa

Menurutnya, di 2025 permintaan lahan industri di Kawasan tersebut diprediksi akan lebih baik ditopang stabilitas politik, keamanan dan regulasi yang cukup baik di Indonesia pasca pemilihan raya. Salah satu optimisme itu ditandai dengan rencana ekspansi SIER di Ngawi dengan luas sekitar 600 hektar dan NIP yang akan mengembangkan sisa lahannya seluas 250 hektar di Mojokerto.

“Tahun depan, kenaikan harga mungkin terjadi. Namun hal itu dipicu karena inflasi. Kenaikan diprediksi sekitar 4,3% secara tahunan (year on year),” jelasnya.

Selain inflasi, beberapa pengelola kawasan industri menaikkan harga lahan karena ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Kenaikan suku bunga dan ketegangan geopolitik juga diperkirakan akan membuat harga tidak banyak bergerak selama tahun 2025.

Meski di tengah kondisi ekonomi yang belum terlalu bagus, permintaan gudang logistik diperkirakan masih tetap aktif. Menurut Colliers, di semester II-2024 tingkat okupansi mengalami kenaikan 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 92,6%.

industrisby1aw.jpg

“Perusahaan 3PL (Third Party Logistics) atau penyedia layanan logistik, e-commerce , dan manufaktur masih menjadi motor penggerak permintaan warehouse di Surabaya dan sekitarnya,” sebut Ferry.

Harga sewa gudang modern dilaporkan tetap stabil di Rp55 ribu hingga Rp75 ribu per meter persegi per bulan, sementara gudang tradisional di kisaran Rp25 ribu hingga Rp45 ribu per meter persegi per bulan. Diperkirakan harga sewa gudang modern dan tradisional tetap stabil hingga akhir 2025.

“Kami berpendapat gudang tradisional akan tetap tumbuh dibanding gudang modern, karena dapat menjangkau penyewa (tenant) yang lebih beragam dengan harga lebih terjangkau,” ungkap Colliers Indonesia.

Fase Ekspansif

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan aktivitas industri manufaktur di Tanah Air menunjukkan geliat positif di penghujung tahun 2024. Itu tecermin dari hasil survei yang dirilis oleh S&P Global yang memperlihatkan capaian Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Desember berada di fase ekspansif, yakni sebesar 51,2 atau naik signifikan dibanding bulan November yang mengalami kontraksi di level 49,6.

6-1.jpg

“Alhamdullilah, industri manufaktur kita kembali rebound setelah lima bulan berturut turut mengalami kontraksi sejak Juli 2024. Hal ini sejalan dengan laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Desember 2024, yang masih bertahan pada posisi ekspansi, yaitu sebesar 52,93,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif dalam keterangannya, baru-baru ini.

Febri menjelaskan, di tengah dinamika politik dan ekonomi global yang tidak pasti, sektor industri manufaktur di Indonesia tetap menunjukkan ketangguhannya. PMI manufaktur yang ekspansif ini, ujarnya, sekaligus menandakan kepercayaan diri dan optimisme dari pelaku industri nasional masih cukup tinggi. 

PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2024 mampu melampui PMI manufaktur RRT (50,5), Jerman (42,5), Rusia (50,8), Inggris (47,3), Amerika Serikat (48,3), Jepang (49,5), Korea Selatan (49,0), Vietnam (49,8), Malaysia (48,6), dan Myanmar (50,4). 

Paul Smith selaku Economics Director S&P Global Market Intelligence mengatakan, perekonomian manufaktur Indonesia pada tahun 2024 berakhir dengan catatan positif. Besar harapan bahwa tren positif ini akan berlanjut.

“Banyak perusahaan berharap kenaikan produksi pada tahun mendatang karena kondisi makro ekonomi stabil dan kekuatan membeli masyarakat,” katanya. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi