• 29 Jul, 2026

Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Bangka Belitung optimis tahun ini sektor properti terutama hunian bersubsidi akan bergerak positif dibandingkan tahun sebelumnya. Bergeraknya sektor properti diyakini akan mendukung perekonomian di Bumi Serumpun Sebalai itu.

Ketua DPD REI Bangka Belitung (Babel), Gunadi menyebutkan optimisme ini didasarkan pada kuota rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang lebih banyak dibandingkan pada tahun lalu. Selain adanya Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman yang diharapkan membuat kebijakan yang mempercepat realisasi penyediaan rumah subsidi.

“Kami optimis tahun ini (pasar properti) lebih baik karena kuota tidak terbatas, kabarnya bahkan akan ditambah jadi 420.000 unit,” ungkap Gunadi. 

REI Babel berharap sektor properti dapat terus bergerak positif dan menjadi sektor pendukung perekonomian di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Apalagi, sektor ini mempunyai dampak yang signifikan, karena terdapat lebih dari 185 sektor ikutan lain jika sektor properti berjalan baik. 

Gunadi mengatakan, pihaknya berharap sektor properti mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih serius dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Dengan memberikan regulasi dan kebijakan yang mendukung terciptanya iklim usaha yang nyaman bagi semua pihak, bukan malah sebaliknya. 

“Kami siap mendukung dan berkolaborasi dalam program 3 juta rumah yang ditargetkan pemerintah," tegasnya. 

Daya Beli Melemah

Menurut Gunadi, kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat terkait pembebasan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebenarnya cukup baik untuk mendukung konsumen dan mempercepat proses perizinan properti di daerah. Hanya saja, realisasinya di daerah masih banyak yang mengalami perlambatan. 

Di sisi lain dari sektor perumahan komersil juga perlu mendapat perhatian dan dukungan supaya dapat berjalan beriringan dengan sektor perumahan MBR.

“Selain itu, insentif PPN DTP kami harapkan bisa terus berlanjut demi mendukung daya beli konsumen properti. Yang tidak kalah penting, kolaborasi dan sinergi yang baik dari berbagai stakeholder termasuk perbankan menjadi sangat diperlukan dalam kondisi ekonomi saat ini,” kata Gunadi. 

Diakuinya, kondisi daya beli memang menjadi kekhawatiran paling besar pengembang di Babel saat ini. Pasalnya, menurut Gunadi, selain kondisi ekonomi nasional dan global memang tidak begitu baik, khusus di Babel sejak mencuatnya kasus korupsi tata niaga timah, perekonomian dan daya beli masyarakat di daerah itu menurun. Tak heran jika terjadi penurunan jumlah anggota REI Babel dan juga proyek properti baru.

Menurut Gunadi, pengembang di Babel masih akan fokus pada pengembangan dan penjualan proyek-proyek yang sudah berjalan (eksisting) dan menahan diri untuk meluncurkan proyek baru. 

Pada 2024, sebagian besar realisasi hunian MBR di Babel terkosentrasi di Kota Pangkal Pinang, Bangka Tengah, Bangka Barat, Kabupaten Bangka, dan Bangka Selatan. Sedangkan di Belitung terpusat di Belitung dan Belitung Timur.  (Teti Purwanti)

 

Teti Purwanti